Banjar Pagi Desa Organik

Desa Pagi, sebuah nama desa yang unik dan mungkin baru kali ini Anda dengar. Sebuah desa asri dengan sebagian besar areal kebun dan sawah di kaki Gunung Batukaru, Tabanan-Bali. Apa yang menarik dari desa ini adalah selain alamnya yang indah, juga proses bercocok tanam khususnya padi asli Bali yang dilakukan dengan konsep alami/organik. Konsep subak dikembalikan kepada tatanan proses yang berkesadaran alami.

Tinggi Padi mencapai setinggi orang dewasa



Pada beberapa waktu sebelumnya,  daerah ini juga mengalami pergeseran cara bercocok tanam yang mana sejak dahulu nenek moyang mengajarkan kearifan lokal dalam proses bercocok tanam bergeser menjadi ketergantungan terhadap proses instan dengan penggunaan bibit padi dan pupun anorganik. Secara proses tumbuh memang padi-padi tersebut lebih cepat panen namun dibaliknya juga menghabiskan biaya produksi yang tidak sedikit. Yang lebih parah lagi adalah rusaknya ekosistem karena penggunaan zat-zat beracun yang tidak ramah terhadap lingkungan. Indikatornya, keasaman tanah tidak stabil dan sumber-sumber hayati dalam tanah menjadi berkurang, demikian juga predator dan mahluk hidup lainnya yang merupakan satu lingkaran ekosistem menjadi berkurang. Tidak lagi mudah dijumpai belut, cacing, keong (kakul/kreco), dan pada akhirnya hama-hama malah mudah menyerang seperti tikus dan wereng.

Panen menggunakan ani-ani

Namun untunglah kesadaran akan pentingnya kembali ke alam menyadarkan sebagian besar petani. Tidak mudah namun perlahan tapi pasti proses itu bergulir. Mereka menamakan konsep tersebut sebagai UMAWALI (kembali ke huma), kembali ke asal, kembali kepada tatanan luhur cara mengelola ibu pertiwi. Literatur dan kajian cara bercocok tanam masa lalu kembali dipelajari, dipahami, dan diniatkan pelaksanaannya. Beberapa inisiator muda seperti Dek Enjoy, Parta Liong memulai proses ini. Dimulai dengan proses dalam skala kecil, beberapa warga yang percaya dan meyakini proses itu diajak untuk melakukan pemuliaan kembali. Benih Padi Bali yang berkualitas disiapkan, pembuatan pupuk organik dari bahan-bahan yang ada disekitar mulai dilakukan, hingga penangkaran dan studi tentang predator hama tikus yaitu Tyto Alba (salah satu jenis burung hantu) pun mulai dilakukan.

Melintas di pematang
Perlahan namun pasti, ketekunan itu membuahkan hasil yang menggembirakan. Hasil panen menunjukkan hasil yang sangat baik. Bahkan secara berkelanjutan dampaknya terhadap ekosistem sangat menggembirakan. Hasil kajian oleh beberapa institusi terhadap kualitas tanah, air, udara sekitar menjadi sangat baik Penangkaran predator dan penyebarannya juga menunjukkan kualitas yang baik untuk mengurangi hama tikus.  Capung, belut, dan serangga-serangga lain yang dulunya hilang kini kembali hadir menghidupkan harmoni tanah pertiwi. Ekosistem menjadi baik. Ketergantungan terhadap bahan kimia semakin ditinggalkan, hasil padi jauh meningkat secara signifikan, petani pun mendapatkan keuntungan yang lebih baik. Bahkan UMAWALI pun dikonsep makin baik untuk mengurangi jalur tengkulak.

Padi dijemur untuk proses fermentasi
Sesekali menjelang panen mereka mengadakan festival sawah/festival panen raya yang dihadiri banyak kalangan. Suasana yang sangat khas dan sudah jarang dinikmati oleh masyarakat yang sudah makin jauh tersudut dalam suasana modernitas. Mereka menyaksikan kembali proses membajak sawah, memberikan kesempatan anak-anak mereka menikmati bermain di sawah, memperhatikan aneka serangga dan burung, menangkap ikan dan belut di sawah, sampai menikmati sajian kuliner khas desa yang sangat beragam, lezat, dan pastinya sehat. Ditingkahi suara air yang mengalir di pematang dan semilir angin, dan beberapa warga memainkan alat musik bambu yang mengalun merdu. Sungguh sebuah masa yang sangat menyejukan hati.

Penangkaran Predator Alami Tyto Alba
Tak kurang dalam beberapa waktu, keberhasilan inipun mulai kembali mendapatkan kepercayaan dari berbagai krama subak di desa lain dan menjadi percontohan. Bahkan warga asing pun turut mencari lebih dalam tentang keberhasilan ini. Mereka datang dari jauh untuk mencari pemahaman tentang pentingnya dan betapa arifnya tata kelola yang lebih mencintai alam dengan melakukan proses-proses yang disukai oleh alam itu sendiri.


Siswa dari Amerika melakukan studi banding
Dengan kita mencintai alam secara lebih baik, maka alam pun akan mencintai kita dan memberikan kita kehidupan yang lebih baik, sumber pangan yang lebih bergizi tinggi.

Postingan terkait: